Jumat, 25 September 2009

traveling is perlarian

Hari ini saya merasa sangat excited, berbinar-binar seperti abg jatuh cinta, mau tau sebabnya? Karena di depan mata saya terpampang gambar-gambar pemandangan indah dari website Pulau Derawan, impian tujuan wisata saya selanjutnya. Merencanakan liburan lengkap dengan detil agenda, memikirkan dress code dan peralatan yg harus dibawa ternyata efeknya sungguh dahsyat untuk aura bahagia saya saat ini. Jauh lebih mengasyikan dibanding dating with any cute guys ;-p. Lebih excited lagi membayangkan saya akan pergi benar-benar sendirian kesana, membelah hijaunya belantara Kalimantan dan sungai Berau yang di kanan-kirinya bergelantungan monyet hidung merah. Oh God, I cant hardly wait. Yummy..

Jadi ingat, seorang teman pernah menanyakan apakah saya traveling untuk pelarian? The answer is Yes and No. Yang pasti traveling bisa membuat saya bahagia, jangankan menjalaninya, merencanakannya saja sudah membuat saya berbinar-binar seperti ini. Saat traveling kita bisa melihat kebesaran Tuhan yg menciptakan sulaman landscaping dan lautan yang begitu indah, melihat perjuangan bapak petani dan paman nelayan menjalani kehidupan, membuat kita tak punya pilihan lain selain mensyukuri nikmat dan mencintai Sang Pencipta. Di saat sejauh mata memandang hanya ada laut tanpa batas dan langit biru yg begitu megah, luruh sudah semua kesombongan dan ego kita. Begitu kecil kita ternyata. Melihat para polisi hutan dengan gaji yg minim bisa bertanggung jawab pada profesinya, menjaga alam dan hewan-hewan yg dilindungi dengan penuh cinta. Ternyata arti cinta yg selama ini dikupas habis di majalah Cosmo, Female dll, tidak ada apa-apanya.

Selalu ada hal menarik yg bisa kita temui dalam perjalanan, that’s why St. Agustinus said “a world is like a book, the one who stays at home reads only one page”. Mahal memang yg namanya jalan-jalan, tapi jika kita anggap sebagai investasi untuk pengkayaan diri maka bisa dikatakan traveling is value for money. Di Manado saya belajar tulusnya kasih secara universal, torang samua basodara ternyata bukan cuma slogan disana, di setiap rumah kami selalu dijamu besar-besaran, walau baru kenal hari itu. Melihat keseharian napi kelas kakap di Nusa Kambangan yg ternyata punya rasa takut, bisa tersipu malu saat digoda dan pilu menatap kosong bercerita betapa mereka merindukan keluarganya, ahh ternyata mereka juga manusia. Memaknai perjuangan ibu hamil yg harus naik ojek 7km untuk menemui bidan di Ujung Genteng. Berpacu dingin menerobos kabut menyapa petani kentang yg sedang panen di dataran Dieng, jahil menggoda ibu-ibu kemayu pemetik daun teh di Ciwidey. Bermain di tengah senja berteman temaram pelita di kapal nelayan, menunggu dalam harap cemas adanya ikan yg tertangkap. Terapung di laut dgn gemerutuk kedinginan dan perut sangat lapar saat menunggu kapal menjemput di pulau seribu. Tubuh basah kuyup naik kapal ketinting di Tenggarong. Tangan belepotan belajar jadi pengrajin gerabah di Lombok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar